Blog Opini

Menimbang Ulang Tradisi Ujian Disertasi: Seremoni, Dialog Ilmiah, atau Blind Review?

Ahmad Misbakhul Amin
  • March 2, 2026
  • 4 min read
  • 5 Views
Menimbang Ulang Tradisi Ujian Disertasi: Seremoni, Dialog Ilmiah, atau Blind Review?

Ujian disertasi doktoral kerap dibayangkan sebagai puncak perjalanan akademik yang menegangkan sekaligus membanggakan. Banyak orang mengenalnya dengan istilah viva voce. Namun, di balik istilah yang sama, praktik pelaksanaannya ternyata beragam di berbagai negara. Perbedaan itu tidak hanya terletak pada teknis pelaksanaan, tetapi juga pada suasana, nilai, dan filosofi akademik yang melandasinya.

Pengalaman sejumlah akademisi yang pernah terlibat sebagai penguji maupun penelaah eksternal di berbagai negara menunjukkan bahwa setidaknya ada tiga corak utama ujian disertasi doktoral di dunia. Perbedaan ini memperlihatkan bagaimana kultur akademik membentuk wajah akhir dari proses panjang pendidikan doktor.

Model pertama adalah ujian terbuka untuk publik. Corak ini lazim ditemui di Indonesia dan Malaysia. Kandidat mempresentasikan hasil risetnya di hadapan dewan penguji, sivitas akademika, dan sering kali juga keluarga maupun kolega. Acara berjalan layaknya seremoni akademik: ada protokol formal, sesi tanya jawab, dan pengumuman kelulusan dalam forum yang terbuka. Tidak jarang suasana berubah menjadi momentum perayaan, lengkap dengan karangan bunga dan jamuan syukuran. Ujian berlangsung dua hingga tiga jam, memadukan perdebatan ilmiah dengan simbolisme akademik yang kuat.

Tradisi serupa juga dikenal di Belanda, misalnya di Leiden University. Di sana terdapat sistem Hora Finita, sebuah prosesi formal dengan busana akademik dan tata upacara yang ketat. Panel penguji kerap melibatkan akademisi lintas negara. Meski bernuansa seremoni, kualitas telaah ilmiah tetap menjadi penentu utama karena proses review tertulis telah dilakukan secara mendalam sebelum hari ujian. Hasil akhirnya pun beragam, mulai dari kelulusan dengan revisi hingga predikat cum laude atau bahkan summa cum laude. Di Indonesia, ujian terbuka kerap memperlihatkan campuran pertanyaan teoretis, empiris, bahkan personal. Dalam beberapa situasi, terutama ketika kandidat adalah figur publik, forum akademik bisa berubah menjadi panggung simbolik yang sarat relasi kuasa.

Model kedua adalah ujian tertutup atau closed door defense. Pola ini banyak ditemukan di Inggris, Kanada, dan sejumlah kampus Eropa. Forum berlangsung sederhana di ruang kelas biasa, tanpa seremoni dan tanpa audiens publik. Diskusi berlangsung intim antara kandidat dan para penguji. Tekanan utama terletak pada kualitas laporan review tertulis yang disiapkan sebelumnya—biasanya panjang, argumentatif, dan terstruktur. Ujian lisan berfungsi untuk mengklarifikasi kontribusi ilmiah, memperdalam argumentasi, serta menilai kesiapan intelektual kandidat. Dengan model ini, ujian lebih terasa sebagai dialog akademik antarsejawat ketimbang forum penghakiman.

Pengalaman serupa juga dirasakan di lingkungan seperti LMU Munich, tempat diskusi berlangsung sederhana namun kritis dan substansial. Tidak ada ornamen seremoni yang menonjol; yang menjadi pusat perhatian adalah argumen, metodologi, dan kontribusi pengetahuan. Tradisi review tertulis yang kuat ini membuat kualitas evaluasi relatif terukur dan terdokumentasi secara akademik. Dalam konteks Indonesia, budaya laporan evaluasi tertulis yang panjang dan sistematis belum sepenuhnya menjadi arus utama, karena ujian lisan spontan masih mendominasi dinamika penilaian.

Model ketiga berkembang di Australia. Dalam sistem ini, forum ujian terbuka nyaris tidak ada. Evaluasi dilakukan melalui mekanisme blind review oleh para penelaah independen yang dipilih berdasarkan kepakaran dan bebas konflik kepentingan. Sejumlah universitas ternama seperti Australian National University dan Deakin University menerapkan pendekatan ini secara konsisten. Proses penilaian dapat berlangsung beberapa bulan melalui platform daring khusus. Laporan tertulis yang komprehensif menjadi dasar keputusan: lulus tanpa revisi, lulus dengan revisi minor atau mayor, atau dinyatakan belum memenuhi standar. Penekanan utamanya adalah objektivitas, profesionalitas jarak, dan akuntabilitas ilmiah.

Ketiga model tersebut tidak dapat dilepaskan dari latar sejarah dan budaya akademik masing-masing negara. Di Indonesia, warisan birokrasi kolonial dan pengalaman politik yang panjang membentuk relasi yang masih cenderung paternalistik antara penguji dan mahasiswa. Struktur hierarkis kerap terasa dalam forum ujian. Sebaliknya, di banyak negara Barat, relasi akademik cenderung lebih egaliter dan berbasis pada mekanisme peer review yang ketat.

Perdebatan mengenai model ideal ujian doktoral pun terus berkembang. Sebagian kalangan memandang model terbuka penting sebagai bentuk transparansi publik dan tradisi akademik. Yang lain menilai diskusi tertutup atau blind review lebih menjamin objektivitas dan mengurangi tekanan simbolik. Di Indonesia sendiri, beberapa perguruan tinggi mulai bereksperimen dengan format semi-tertutup yang menitikberatkan kualitas dialog akademik dibanding kemegahan seremoni.

 

Ahmad Misbakhul Amin
About Author

Ahmad Misbakhul Amin