Blog

Mengapa Pendidikan Gagal Membentuk Manusia? Refleksi Filosofis tentang Ta’dib, Budaya Digital, dan Krisis Karakter

  • July 23, 2026
  • 6 min read
  • 3 Views
Mengapa Pendidikan Gagal Membentuk Manusia? Refleksi Filosofis tentang Ta’dib, Budaya Digital, dan Krisis Karakter

“Ketika pendidikan hanya sibuk meningkatkan kompetensi peserta didik saja, sementara pembentukan adab terabaikan, maka sesungguhnya yang sedang mengalami krisis bukanlah peserta didiknya, melainkan paradigma pendidikan itu sendiri”

Beberapa tahun terakhir ini, ada sebuah pertanyaan yang kerap kali mengganggu pikiran saya, yakni: “mengapa pendidikan kita, di satu sisi nampak semakin berhasil dengan menghasilkan lulusan yang cerdas, namun di sisi yang lain, juga semakin nampak gagal dalam membentuk manusia yang berkarakter?

Pertanyaan ini tentu saja tidak lahir dari romantisme masa lalu yang sering kali menganggap bahwa generasi terdahulu lebih baik daripada generasi saat ini. Bukan juga sebagai bentuk penolakan terhadap kemajuan teknologi maupun kemajuan ilmu pengetahuan.

Tetapi, pertanyaan ini justru lahir dari pengalaman hidup sehari-hari, sebagai seorang pendidik, yang kerap kali menyaksikan perubahan perilaku yang terjadi pada diri peserta didik secara perlahan, tetapi nyata.

Tidak jarang dalam kegiatan pembelajaran di kelas, saat dosen menjelaskan di depan kelas, beberapa mahasiswa kerap kali lebih sibuk menatap layar gawainya.

Sebagian mahasiswa mengikuti perkuliahan sambil membuka media sosial, sementara sebagian yang lain sibuk merapikan riasan wajahnya, bahkan tidak sedikit pula mahasiswa yang kehilangan kemampuan untuk memberikan perhatian penuh selama beberapa puluh menit.

Dahulu, fenomena yang semacam ini mungkin dianggap sebagai hal yang tidak baik dan menunjukkan sikap yang kurang beradab. Tetapi hari ini, perbuatan itu perlahan menjadi sesuatu yang dianggap biasa.

Hal yang serupa juga terlihat dalam berbagai aktivitas pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa, KKN misalnya. Sejak awal, KKN dirancang sebagai ruang belajar bersama masyarakat.

Dalam kegiatan KKN, mahasiswa tinggal di desa. Mereka mendengarkan problematika yang dihadapi warga, bermusyawarah, kemudian merancang program yang benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Akan tetapi, di era media sosial saat ini, orientasi itu nampaknya mulai bergeser. Dokumentasi memang menjadi bagian administratif pelaporan. Namun, dalam kegiatan KKN saat ini, rupanya dokumentasi justru berubah menjadi tujuan utama, sampai-sampai lupa dengan tujuan awal melaksanakan kegiatan pengabdian.

Tidak sedikit kegiatan pengabdian yang justru lebih sibuk disiapkan agar menarik untuk direkam, ketimbang dilakukan agar benar-benar memberikan kemanfaatan nyata bagi masyarakat.

Beberapa perubahan kecil yang semacam ini, sesungguhnya juga menyimpan pertanyaan yang jauh lebih besar, yakni “apakah kita saat ini sedang menghadapi perubahan perilaku yang biasa terjadi pada setiap pergantian generasi? Atau jangan-jangan sebenarnya ada sesuatu yang lebih mendasar yang sedang berubah dalam cara kita mendidik mereka?”

Sebagian orang kemudian mengatakan bahwa teknologilah yang menjadi penyebab utamanya. Sebagian yang lain menyalahkan media sosial, AI, permainan berbasis digital, atau budaya instan.

Dugaan yang semacam ini memang tidak sepenuhnya salah. Sejatinya, teknologi digital memang telah mengubah bagaimana cara manusia dalam mendapatkan informasi, berkomunikasi, bahkan membangun identitas dirinya.

Akan tetapi, kalau kita menjadikan teknologi saja sebagai penyebab, itu terlalu sederhana. Teknologi hanyalah alat. Problem yang lebih mendasar menurut saya, justru pada bagaimana manusia dibentuk dalam menggunakan teknologi tersebut.

Sementara itu, di sisi yang lain, tidak sedikit pula orang-orang yang menyalahkan karakter generasi muda. Anak-anak muda sekarang dianggap terlalu mudah mengeluh, kurang tahan dalam menghadapi berbagai macam kesulitan, mudah cemas, FoMO, hingga lebih nyaman berinteraksi melalui layar digital ketimbang membangun relasi sosial secara langsung.

Akan tetapi, menyalahkan generasi muda juga bukanlah solusi. Karakter sebuah generasi tentu tidak lahir begitu saja. Karakter tersebut merupakan hasil dari bagaimana keluarga, sekolah, masyarakat, serta kebudayaan mendidiknya.

Oleh sebab itu, menurut pandangan saya, problem yang sesungguhnya terjadi bukan terletak pada diri peserta didik, tetapi pada paradigma pendidikan yang kita bangun hari ini.

Barangkali, selama ini kita begitu sibuk memperdebatkan tentang hal yang tekinis seperti: metode pembelajaran, teknologi pendidikan, kurikulum, atau bahkan model evaluasinya. Kita lupa mengajukan pertanyaan yang paling mendasar, yakni “manusia seperti apa yang sejatinya ingin dibentuk oleh pendidikan kita?”

Dalam beberapa tahun terakhir, diskursus pendidikan kita lebih banyak dipenuhi dengan istilah-istilah seperti kompetensi, keterampilan abad ke-21, literasi, numerasi, kreativitas, inovasi, berpikir kritis, serta problem solving.

Tentu saja semua itu tentu penting. Dunia yang semakin hari semakin berubah, memang menuntut peserta didik kita memiliki kemampuan-kemampuan itu.

Namun, semakin saya amati, semakin saya merasakan bahwa seluruh istilah itu lebih banyak berbicara tentang apa yang mampu dilakukan oleh seseorang, bukan tentang manusia yang seperti apa sih yang sedang dibentuk melalui proses pendidikan?

Berangkat dari semua kegelisahan itulah, pada akhirnya saya mulai melihat bahwa kita mungkin saja sedang mengalami pergeseran orientasi pendidikan.

Pendidikan tidak lagi dipahami sebagai sebuah proses pembentukan manusia, tetapi lebih pada proses untuk menghasilkan individu yang kompeten, adaptif, produktif, dan siap bersaing.

Keberhasilan pendidikan pada akhirnya lebih mudah diukur melalui angka, capaian akademik, sertifikat penghargaan, keterampilan, atau bahkan prestasi semata, sementara dimensi pembentukan adab perlahan mulai bergeser ke pinggir.

Jika kita menilik tradisi pendidikan Islam, tujuan utama pendidikan tidak pernah berhenti pada penguasaan ilmu semata. Ilmu selalu dipandang sebagai jalan utama untuk menuju pembentukan manusia yang beradab.

Pengetahuan yang dimaksud, tidak hanya sekedar memenuhi ingatan atau meningkatkan kemampuan berpikir saja, lebih dari itu, untuk mengubah cara seseorang dalam memandang dirinya, orang lain, alam, serta Tuhannya.

Dengan kata lain, pendidikan tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan manusia yang mengetahui lebih banyak saja, tetapi juga mampu menempatkan dirinya secara benar dalam kehidupan.

Di titik inilah kemudian saya mulai mempertanyakan kembali salah satu kecenderungan pendidikan kita saat ini yang semakin berpusat pada kenyamanan individu.

Demi menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, kerap kali kita menghindari kesulitan, disiplin, bahkan tuntutan-tuntutan yang sesungguhnya justru diperlukan untuk membentuk karakter.

Atas nama menjaga kesehatan psikologis peserta didik, terkadang kita lupa bahwa kedewasaan itu justru lahir melalui kemampuan dalam menghadapi berbagai kesulitan, tantangan, menunda kepuasan, serta belajar bertanggung jawab.

Dampaknya adalah pendidikan yang semacam itu berisiko menghasilkan individu yang memiliki banyak pengetahuan, namun sedikit sekali memiliki ketangguhan. Meraka mungkin memiliki banyak keterampilan, namun miskin keteladanan dalam hal bersosial dengan yang lain.

Menurut saya, persoalan inilah yang saat ini patut untuk kita renungkan bersama. Krisis karakter anak-anak kita yang sering kita keluhkan, barangkali bukan persoalan yang berdiri sendiri.

Bisa jadi krisis karakter hanyalah gejala dari persoalan yang lebih mendasar lagi, yakni bergesernya orientasi pendidikan kita, dari pendidikan yang berorientasi pada pembentukan manusia, menuju optimalisasi kompetensi individu semata.

Maka dari itu, mungkin sudah saatnya kita kembali mengajukan pertanyaan yang paling sederhana, namun sekaligus juga paling mendasar, yakni “untuk apa sesungguhnya pendidikan itu diselenggarakan?”

Jika jawabannya hanya agar manusia dapat menjadi lebih pintar, lebih kompeten, atau lebih siap dalam menghadapi pasar kerja, maka mungkin kita memang benar-benar sedang kehilangan sesuatu yang sangat penting.

Akan tetapi, jika pendidikan diarahkan untuk membentuk manusia yang kaaffah—cerdas, berkarakter, beradab, serta bertanggung jawab—maka, kita perlu membaca ulang tradisi pendidikan kita sendiri.

Dalam khazanah Islam, tradisi itu dikenal melalui konsep ta’dib, yakni sebuah paradigma pendidikan yang tidak hanya berhenti pada pengajaran ilmu semata, tetapi juga mengarahkan ilmu menjadi adab, dan adab inilah yang menjadi fondasi bagi lahirnya peradaban.

Barangkali, di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan zaman yang tidak mungkin kita bendung, maka pertanyaan yang paling mendesak bukanlah tentang bagaimana agar membuat pendidikan kita semakin modern, akan tetapi bagaimana kita memastikan bahwa pendidikan tetap mampu dalam membentuk manusia yang utuh.

About Author

Lailatuzz Zuhriyah

Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung