Blog Opini

Lanskap Pengetahuan: Dari Goa Menuju Perbincangan Akademik Dunia

Ahmad Misbakhul Amin
  • March 4, 2026
  • 4 min read
  • 16 Views
Lanskap Pengetahuan: Dari Goa Menuju Perbincangan Akademik Dunia

Masuk dunia penulisan artinya menyiapkan diri untuk masuk ke dalam goa yang gelap, panjang, dan penuh teka teki. Ini adalah kutipan Cak Akhol pada agenda Sekolah Riset yang diagendakan Jurusan Dakwah UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung di bawah kepimpinan Pak A’am, Pimpinan Redaktur Suluk.id.

Awalnya aku belum terlalu paham, apa dan bagaimana maksud pernyataan itu. Dosen yang sekaligus menjadi Kepala Jurusan di Jurusanku ini memang sering menjadi subyek curhat akademik mahasiswanya. Lama aku merenung hingga berakhir pada satu keputusan, aku harus menghadap dan konsultasi juga kepadanya.

Pagi itu aku berangkat ke Kantor Ushuluddin, di satu sisi aku adalah mahasiswa akhir dan di sisi lain aku penerima beasiswa kerja bertalenta di Kampus dan ditempatkan di Fakultas ini. Sengaja aku datang sedikit pagi untuk bertemu dengan Cak Akhol, menyampaikan keresahan atas pernyataan yang dilontarkannya beberapa hari lalu. Sudah menjadi agenda rutin yang aku wajibkan kepada diri sendiri, bila ada hal yang muskil pantang malu bertanya.

Agak pagi aku datang, ternyata Cak Akhol sudah duduk di kursi dekat jendela dengan satu batang rokok di jemari karena belum jam aktif kantor, begitu pula dengan kopi arabica tanpa gula tak luput di sisi kanannya. Aku datangi dan salami seperti biasa lalu duduk di depannya untuk berdiskusi ringan pagi ini. “Isuk-isuk kok wes ngajak debat,” candanya.

Aku mengutarakan kejanggalan demi kejanggalan dari pernyataan yang pernah ia sampaikan. Ia seruput kopi pahit itu seteguk dan menghela nafas lalu berusaha menjelaskan kemusykilan itu kepadaku. “ ilmuan itu butuh senjata yang namanya penelitian dan penelitian itu akan tajam bila ditulis dalam bentuk laporan, bisa buku bisa juga artikel ataupun hasil yang lain,” katanya mengawali.

Menurutnya, ilmuan itu butuh satu goa pengetahuan yang berarti konsentrasi keilmuan. Goa itu adalah ruang gerak pengetahuan yang digeluti dan terus digali untuk mengukir dalam lobangan pengetahuan secara sempurna. Jika seorang sudah masuk dalam goa artinya ia sudah siap dengan segala konsekuensi seperti gelap, panjang, lembab, dan penuh teka teki. Ini semua persis yang akan dilalui ilmuan dalam melakukan pengembangan keilmuan.

Untuk memasuki goa itu butuh alat dan beberapa perangkat seperti senter, benda tajam, dan pengaman. Sama seperti seorang ilmuan yang ingin masuk goa juga membutuhkan perangkat seperti metodologi, data, ataupun fakta ilmiah. Seperti itulah goa dan pengetahuan.

Goa dan pengetahuan ibarat satu dimensi yang pelik tapi menarik, yang memukau tapi penuh lika-liku. Namun, satu kejanggalan lagi yang menambah kemusykilanku adalah bagaimana cara kita menemukan goa itu. Bagaimana pula cara mengembangkan dan menggali lebih dalam keilmuan yang telah menjadi pilihan hidupnya ?

Cak Akhol kembali menyeruput kopinya sembari mendengarkanku menyampaikan beberapa pertanyaan dan sanggahan pagi ini. Ia kembali menjelaskan bahwa untuk mencapai goa maka butuh perjalanan, untuk melakukan perjalanan maka butuh pemandu misalnya orang yang pernah singgah atau sekedar mendengar penuturan orang yang sedikit berpengalaman. Sama halnya ilmuan jika ingin mengetahui di mana lokasi konsentrasi ilmu yang harus digelutinya maka ia harus mengetahui perbincangan akademik yang pernah dilakukan oleh ilmuan sebelumnya.

Ia meyakini bahwa setiap penelitian itu pasti didasari oleh perbincangan akademik yang sudah terjadi sejak awal sehingga perbincangan itu terus berlanjut dan membentuk puzle yang tidak sama. Ketidaksamaan ini melahirkan ruang kosong untuk kita tempati sesuai dengan porsi dan bentuk yang dibutuhkan. Bentuk yang dibutuhkan itulah yang disebut dengan goa dan Cak Akhol mengenal goa itu dengan istilah State of the Art.

Ia sendiri juga bercerita bahwa dalam perjalanan karier akademiknya ia menemukan banyak batu kerikil untuk mencapai bibir goa Studi Islam Jawa, belum masuk di sana. Ia harus bergelut dengan berbagai disiplin ilmu termasuk bahasa, kultur, dan simbol. Ia harus mau membaca dan melihat perbincangan akademis sebelum ia menemukan State of the Art-nya. Walhasil hari ini ia telah mampu dan berhasil masuk dalam goa untuk mengembangkan jalan, mengatur haluan goa, dan mengukir dengan indah di goa Studi Islam Jawa-nya.

 

Ahmad Misbakhul Amin
About Author

Ahmad Misbakhul Amin