Opini Tokoh

Ulasan Sederhana Versi Anak Muda: Futuwwah Karya Rizqa Ahmadi

Ahmad Misbakhul Amin
  • March 11, 2026
  • 4 min read
  • 25 Views
Ulasan Sederhana Versi Anak Muda: Futuwwah Karya Rizqa Ahmadi

Agak sulit memang memberi ulasan tulisan orang yang ilmunya jauh lebih tinggi dari pada kita, apa lagi seorang dosen yang bertahun-tahun mengajarku di setiap semester hingga pada akhirnya aku memintanya untuk menjadi dosen pembimbing skripsi. Bukan karena aku tidak mampu membaca ataupun berkomentar, justru menurut pandanganku “kita cenderung lebih mudah mengkritik dari pada menulis”. Tapi tidak untuk buku ini, selain karena ditulis oleh dosen yang aku hormati, secara objektif aku juga menyadari keterbatasanku dalam memberikan komentar disiplin ilmu yang jarang digeluti.

Selasa pagi, (10/03/2026) aku menerima pesan singkat dari penulis buku Futuwwah, Dr. Rizqa Ahmadi untuk mengambil buku di kantor yang beliau pimpin, Kantor Jurusan Adab Gd. Parjnaparamita. Buku ini dihadiahkannya kepadaku, walaupun sebenarnya aku sudah khatam membacanya. Sedikit narsis, kalau tidak salah mungkin aku adalah orang keempat yang membaca khatam buku ini setelah penulis (Ustadz Rizqa), editor (Pak Wildani Hefini), dan Prof. James J. Fox yang memberikan kata pengantar. Aku diberikan kepercayaan Ustadz Rizqa untuk melakukan koreksi ulang hal teknis terkecil seperti kesalahan penulisan kata, ketidaktepatan artikulasi kata, dan inkonsistesinya, bahasa kecenya Profedding (belum Profesor). Walaupun pada akhirnya belum sempurna karena setelah tercetak masih ditemukan beberapa kata yang keliru, alamak, urusan teknis tapi bikin geli pembaca. Afwan Ustadz.

Setelah khatam membaca buku ini ada beberapa ulasan yang menurutku harus aku katakan pada publik. Tenang, aku tidak akan berkomentar pedas seperti yang aku lakukan pada Hisham Ibn ‘Urwah di skripsi yang dibimbing oleh penulis buku ini. Bukan karena takut kualat tapi memang belum menemukan celah objektif pada bagian mana aku harus melakukan kritik, telaah ulang, atau sampai dekonstruksi pemikiran dimensi sosial tasawuf versi Ustadz Rizqa.

Pertama, buku ini memiliki perjalanan akademik yang bukan hanya diteorikan dan diwacanakan dalam panggung academic wraiting, tetapi diaplikasikan secara nyata dalam bentuk tulisan. Ustadz Rizqa di setiap pertemuan baik di kelas perkuliahan maupun di Komunitas El Himmah (Pengkaji Al Qur’an Hadis Turats dan Wacana Keislaman) yang juga diasuhnya, selalu menekankan urgensi komunikasi antar ilmuan yang ia sebut dengan perbincangan akademik. Menurutnya tidak ada riset yang berdiri sendiri, justru ia telah diperbincangkan dan didiskusikan oleh para ilmuan. Untuk mengetahui di mana perbincangan itu dan sampai mana perbincangan itu ada maka perlu untuk melihat dan merujuk beberapa hal penting untuk dapat dijadikan sebagai fondasi.

Seperti yang kita tahu bahwa slogan awal Goegle Scholar “Stand on the Shoulders of Giants /Berdiri di atas pundak para raksasa”, Ustadz Rizqa benar-benar berdiri di atas para raksasa pengetahuan. Aku melihat perbincangan akademik ini sudah ditegaskan secara implisit dalam kata pengantarnya. Secara langsung, karena aku memiliki kebebasan sebagai profeeding aku dengan leluasa mengkroscek kembali dari mana klaim, pernyataan yang dinukil dan dijadikan referensi oleh penulis. Misalnya Ustadz Rizqa merujuk pada diskusi yang dilakukan oleh Prof. Amin Syukur di beberapa buku: Tasawuf Sosial, Tasawuf Kontekstual, dan Menggugat Tasaawuf. Ketiga buku ini secara akademis berbincang dan berkelindan dengan buku Prof. Said Aqil Sirodj berjudul “Tasawuf Sebagai Kritik Sosial”. Polemik akademik sebagai dinamika keilmuan juga muncul dalam buku ini. Misalnya ketika penulis merujuk buku Sayyed Hosein Nasr, bersamaan dengan itu penulis memunculkan pandangan Nurcholis Madjid dalam bukunya “ Agama dan Negara dalam Islam Telaah atas Fikih Siyasi Sunni”.

Kedua, buku ini ditulis dengan data maju mundur. Aku katakan demikian karena penulis tidak membatasi diri pada data terbaru yang hanya hasil pengkotakan dari keumuman pengetahuan dan fakta empiris. Buku ini sudah ditulis sejak tahun 2017, artinya beberapa data literatur diambil pada tiga hingga lima tahun sebelumnya, bahkan penulis juga menemukan data pustaka yang ditulis pada tahun 1954 Abdul Hakim Hasan, 1967 oleh Al Mutawaqqi, dan 1975 oleh Harun Nasution. Di sisi lain penulis juga menawarkan sampel baru dari hasil riset lapangannya. Misalnya pada studi kasus jamaah Siddiqiyyah di Ploso, Jombang.

Ketiga, penulis belum layak terlalu banyak berkomentar, namun ada satu hal yang menurut penulis perlu untuk diketahui publik, bahwa buku ini menawarkan tasawuf kontemporer. Bagian ini dapat dilihat di tiga bab terakhir, yakni pada bab dialektika Tasawuf Sosial dan Psikologi pada halaman 204, Tasawuf Sosial dan Disabilitas pada halaman 208, dan Tasawuf Sosial dan Ekologi halaman 214, serta ditutup pada bab 16 yakni Warisan Nusantara Tentang Futuwwah. Namun, untuk mengetahui alur berpikir penulis, menurut saya pembaca tetap harus membacanya sedari awal. Siapkan kopi yang pahit dan  pisang goreng yang panas untuk menamanimu bertamasya di ruang pemikiran Ustadz Rizqa.

Tabik,
Ahmad Misbakhul Amin (Mahasiswa Penulis Buku Futuwwah)

 

 

Ahmad Misbakhul Amin
About Author

Ahmad Misbakhul Amin