Agama Keislaman Muamalat Opini Peristiwa

Rektor Tekankan Tiga Hal Penting Moderasi Beragama: Karakter Ramah, Inklusi, dan Selaras dengan Nilai Kebangsaan

  • December 29, 2025
  • 4 min read
  • 76 Views
Rektor Tekankan Tiga Hal Penting Moderasi Beragama: Karakter Ramah, Inklusi, dan Selaras dengan Nilai Kebangsaan

“Saat kampus menjadi ruang perjumpaan bagi mereka yang berasal dari berbagai latar belakang, maka di sanalah moderasi beragama diuji sekaligus dirawat. Ikhtiar ini bukan hanya diwujudkan melalui diskusi akademik semata, namun melalui sikap, kebijakan, dan juga keberanian dalam merawat perbedaan. Sebagai bagian dari Asta Protas Kementerian Agama RI untuk mewujudkan Kemenag Berdampak, maka penguatan moderasi beragama dan ekoteologi tidak boleh hanya berhenti pada tataran wacana saja. Hal ini ditegaskan Rektor UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung dalam kegiatan Evaluasi Program Pelatihan Penggerak Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi.”

Moderasi Beragama sebagai Tanggung Jawab Institusional

UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung hari ini (29/12) melaksanakan kegiatan “Evaluasi Kegiatan Program Pelatihan Penggerak Moderasi Beragama dan Internalisasi Ekoteologi” di Crown Victoria Hotel Tulungagung.

Dalam sambutannya, Rektor menegaskan bahwa sejatinya moderasi beragama bukanlah sekedar jargon program saja, tetapi menjadi perjanjian kinerja (Perkin)/KPI bagi lintas level pemerintahan, mulai dari Gubernur, Bupati/Wali Kota, hingga rektor di seluruh PTKIN.

Hal ini bermakna bahwa moderasi beragama merupakan tanggung jawab struktural sekaligus moral yang harus diwujudkan secara nyata, baik dalam kebijakan, maupun dalam praktik keseharian.

Dalam hal ini, perguruan tinggi memiliki peran yang sangat strategis, yakni bagaimana perguruan tinggi dapat mencetak mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik saja, tetapi juga ramah dalam beragama, memiliki sikap yang inklusif, serta kokoh dalam wawasan kebangsaan.

Perguruan tinggi tidak boleh menjadi ruang yang eksklusif. Perguruan tinggi harus menjadi rumah bersama dan ruang perjumpaan yang ramah bagi mereka dari latar belakang yang berbeda.

Sinergi dan Kolaborasi sebagai Jalan Mewujudkan Moderasi

Pengarusutamaan moderasi beragama membutuhkan sinergi dan kolaborasi. Dalam hal ini, UIN SATU Tulungagung menggandeng FKUB Tulungagung.

Bagi UIN SATU Tulungagung, FKUB bukan sekedar mitra formal, tetapi menjadi simpul sosial yang strategis dalam mewujudkan moderasi beragama.

Sinergi dan kolaborasi ini menunjukkan bahwa moderasi beragama tidak akan efektif jika hanya diperbincangkan dalam ruang-ruang akademik saja.

Moderasi beragama justru akan dapat diwujudkan melalui aktivitas sederhana secara bersama-sama, yang dapat bersentuhan langsung dengan realitas sosial dan pengalaman lintas iman yang nyata di masyarakat, seperti kegiatan kemah moderasi, senam moderasi, bakti sosial, dan aktivitas sosial lainnya.

Sinergi dan kolaborasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya untuk mendukung gagasan Religreen UIN SATU, yakni mengintegrasikan antara moderasi beragama dengan kepedulian ekologis.

Dalam perspektif ini, ekoteologi dipahami sebagai ekspresi keberagamaan yang tidak hanya ramah dan menebar cinta pada sesama manusia saja, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keberlanjutan alam.

Ke depan, Rektor juga sangat berharap agar gerakan ini meluas ke madrasah-madrasah. Sebab, karakter ramah dan toleran sejatinya tidak cukup dibangun pada usia dewasa (mahasiswa); namun sangat perlu ditanam sejak dini, menjadi pola habitus, tidak hanya sekedar pengetahuan saja.

Mengukur, Menginsersi, dan Membudayakan Moderasi

Sejatinya, kesadaran normatif dalam membudayakan moderasi saja tidak cukup. Moderasi memerlukan alat ukur agar tidak berhenti sebagai slogan saja.

Oleh sebab itu, Rektor menghimbau agar melakukan survei Indeks Moderasi Beragama, dimulai dari warga kampus terlebih dahulu, karena ini menjadi langkah penting. Kampus harus diuji terlebih dahulu, seberapa inklusif, seberapa toleran, dan seberapa ramah warga kampus pada perbedaan.

Hasil pengukuran ini nantinya tidak boleh hanya berhenti pada laporan saja. Lebih lanjut perlu dilakukan insersi ke dalam kurikulum.

Setiap program studi, dengan kekhasan keilmuannya, memiliki tanggung jawab etis untuk merawat nilai moderasi beragama dan ekoteologi dengan menginsersikan nilai-nilai ini ke dalam kurikulum.

Tujuan utamanya adalah bagaimana mahasiswa dapat menghidupkan sikap ini, baik dalam cara berpikir, bersikap, maupun bertindak dalam kehidupan sehari-hari.

Tiga Hal Penting Moderasi Beragama

Rektor dalam sambutannya menekankan tiga hal utama yang menjadi fondasi penting bagi penguatan moderasi beragama di UIN SATU Tulungagung.

Pertama, karakter ramah, terutama kepada mereka yang berbeda dengan kita, baik dalam beragama, pandangan hidup, maupun latar sosialnya. Dalam hal ini, keramahan sejatinya bukan hanya semata etika sosial, tetapi menjadi sikap batin yang mengakui martabat kemanusiaan sebagai nilai universal.

Kedua, sikap inklusi. Komitmen ini diwujudkan secara nyata melalui penerimaan mahasiswa baru non-Islam dan mahasiswa difabel. Lebih dari itu, wujud nyata sikap ini dapat dilihat dari pengembangan lahan untuk kampus dua, UIN SATU Tulungagung tetap mempertahankan rumah ibadah agama lain yang berada di area tersebut sebagai simbol sekaligus praktik toleransi beragama yang konkret.

Ketiga, keselarasan dengan nilai-nilai kebangsaan. Dalam konteks Indonesia sebagai negara majemuk, maka penguatan nilai moderasi menemukan relevansinya. Dalam hal ini, kesalehan personal perlu berjalan beriringan dengan komitmen kebangsaan, sehingga agama dapat menjadi kekuatan sebagai pemersatu, bukan malah sebaliknya, menjadi sumber konflik.

Apa yang dirintis oleh UIN SATU Tulungagung ini menunjukkan bahwa jargon “Kemenag Berdampak” bukan sekedar mimpi kosong saja. Kemenag Berdampak harus dimulai dari kampus yang berani untuk bersinergi dan berkolaborasi, mengukur dirinya, serta membudayakan nilai-nilai moderasi tersebut.

Dari Tulungagung, harapan-harapn mulia ini dirajut, yakni bagaimana mewujudkan Indonesia yang rukun, beriman, dan lestari (berorientasi pada keberlanjutan). Dalam hal ini, maka moderasi beragama dan ekoteologi tidak boleh hanya menjadi sekedar agenda saja, tetapi harus menjadi  jalan hidup bersama.

Penulis:
Lailatuzz Zuhriyah (Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung)

About Author

Lailatuzz Zuhriyah

Kepala Pusat Penelitian LP2M UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung