Opini Peristiwa

MUTAWATIR: Tradisi Dialektika Mahasiswa Ilmu Hadis UIN SATU Tulungagung

  • March 2, 2024
  • 3 min read
  • 11 Views
MUTAWATIR: Tradisi Dialektika Mahasiswa Ilmu Hadis UIN SATU Tulungagung

Mutawatir (Musyawarah Tambah Wawasan Berpikir) merupakan salah satu program kerja HMPS Ilmu Hadis 2024. Kegiatan ini dilaksanakan dengan jangka waktu dua bulan sekali. Dilaksanakan di taman depan gedung KH. Arief Mustaqiem, Mutawatir perdana dilaksanakan pada Sabtu, 2 Maret 2024. Acara berlangsung dengan khidmat dengan dipandu moderator Abdika Mahasiswa Ilmu Hadis semester dua yang sekarang fokus di bidang penelitian dan Tahfidz hadis. Mutawatir perdana dihadiri perwakilan dua Prodi yakni Prodi Ilmu Hadis sebagai tuan rumah dan Prodi Hukum Tata Negara sebagai tamu yang diundang sebagai salah satu pembanding di acara tersebut.

Kegiatan Mutawatir perdana dijadwalkan pada pukul 08.30 hingga 11.00 dengan mengusung tema Demokrasi: Diskursus Hadis Hukum Tata Negara Melihat Fenomena Pemilu di Indonesia. Tema ini diusung guna melihat respon mahasiswa ilmu hadis terhadap fenomena pemilu tahun 2024 ini. namun lain dari pada itu pemaknaan terhadap hadis hukum tata negara yang kemudian dijadikan sampel atas fenomena pemilu dan model kepemimpinan kekinian menjadi dimensi terpenting yang dibahas dan didiskusikan. Dengan bekal literatur klasik hingga kontemporer dipadukan dengan gagasan dan asumsi dari Mahasiswa Prodi Hukum Tata Negara akhirnya pandangan demi pandangan menghasilkan dialektika yang secara teoritis dan empiris dapat dipertanggungjawabkan.

Muhammad Zainuddin Asror sebagai pemateri, salah satu Mahasiswa Ilmu Hadis pada sesi awal menceritakan dan menyampaikan beberapa data tentang gaya dan situasi kepemimpinan yang terjadi sejak zaman Rasulullah hingga menurun ke beberapa dinasti seperti Bani Umayah dan Bani Abasiyah. Zain, sapaan akrabnya menyampaikan bahwa dinamika yang terjadi sejak kepemimpinan nabi hingga sekarang sangat rumit untuk dipahami secara transparan dan konservatif. Namun terdapat beberapa kitab karya ulama klasik berisikan tentang kisah dan cerita secara jelas betapa kemelutnya pergolakan perpolitikan yang terjadi pada beberapa Raja Islam terdahulu. Melihat fenomena seperti itu, ia optimis bahwa seberapapun tantangan dan permasalahan di lingkungan kenegaraan dan khususnya politik bisa dikalahkan dengan kekuatan persatuan dan kesatuan.

Melihat penjelasan dari Zainuddin, Ikhsanuddin sebagai pembanding juga memberikan asumsi dasar serta pandangannya terhadap situasi politik Pra dan Pasca pemilu di Indonesia sesuai dengan disiplin keilmuan yang digelutinya. Ikhsanuddin dalam pandangannya juga terlihat optimis sebagaimana Zainuddin tunjukkan di awal. Walaupun ketika mengutip dan membaca literatur terkini memberitakan atas adanya dugaan keculasan dan kecurangan dari sebagian pihak namun kontestasi hanyalah sekedar kontestasi dan demokrasi merupakan dimensi yang selamanya perlu diperjuangkan, dirawat, dan dikembangkan.

Agenda mutawatir sebagaimana mengutip pidato M. Fadhil Febryansyah selaku Ketua Umum HMPS IH menyampaikan bahwa agenda ini akan menjadi salah satu ikon kebanggaan warga Mahasiswa Ilmu Hadis. Pasalnya agenda ini merupakan satu tradisi dialektika yang bukan hanya memberikan nilai plus kepada lembaga dan organisasi namun juga menambah wawasan dan paradigma keintelektualan Mahasiswa di bidang hadis. Terakhir, kegiatan ini ditutup dengan Lounching logo Kabinet El Musnad yang per hari ini siap bekerja dan berkhidmah bagi intelektual dan literasi di lingkungan Prodi Ilmu Hadis UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung.

About Author

Ahmad Misbakhul Amin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *