Agama

Dari Keraguan Menuju Kebenaran Sejati

  • October 23, 2023
  • 4 min read
  • 20 Views
Dari Keraguan Menuju Kebenaran Sejati

Kaafah.id – Keraguan adalah bagian alami dalam perjalanan spiritual, bahkan bagi seorang Muslim. Pertanyaan tentang keikhlasan dalam syahadat, penerimaan ibadah, dan aspek-aspek keimanan lainnya adalah hal yang wajar. Keraguan sebenarnya dapat menjadi langkah awal yang menuju pemahaman yang lebih dalam tentang kebenaran. Dalam konteks ini, filsafat menawarkan suatu metode yang dikenal sebagai “metode kesangsian,” yang diperkenalkan oleh seorang filsuf modern terkenal, René Descartes.

René Descartes sendiri pernah mengalami keraguan yang mirip dengan yang dialami oleh banyak Muslim. Ia meragukan eksistensi hal-hal metafisika dan materi dalam kehidupannya. Bahkan, keraguan radikalnya membawanya meragukan eksistensi dirinya sendiri, termasuk apakah tubuhnya nyata atau hanya ilusi. Namun, dari keraguan ini, Descartes berhasil menemukan konsep kebenaran tertinggi yang disebut sebagai “substansi.”

Dalam pencarian kebenaran, seringkali kita menghadapi kesulitan membedakan antara yang benar dan yang salah. Banyak orang cenderung bergantung pada panca indera mereka, meskipun panca indera ini dapat menipu. Hal ini dapat menghasilkan prasangka-prasangka buruk. Oleh karena itu, dalam upaya mencapai kebenaran yang pasti, kita perlu mengandalkan penalaran yang sehat dan kritis.

Descartes, melalui teori “Cogito, ergo sum” (Aku berpikir, maka aku ada), mengajarkan bahwa pemikiran adalah dasar dari eksistensi yang tidak dapat diragukan. Dalam pemikirannya, ia menekankan bahwa, bahkan ketika kita meragukan segala hal, kita masih dapat yakin bahwa kita ada karena kita berpikir. Oleh karena itu, pemikiran menjadi fondasi dalam mencari kebenaran yang pasti.

Meskipun Descartes menghadapi kesulitan dalam mencari kebenaran mutlak, terutama karena pemikiran filsafat pada masanya masih dipengaruhi oleh konsep-konsep lama, ia menekankan pentingnya penggunaan metode dalam pencarian kebenaran. Descartes menciptakan metode kesangsian, yang merupakan metode logika terbalik (deduktif) untuk mencari kebenaran mutlak (substansi).

Dalam bukunya yang terkenal, “Discourse on the Method” dan “Rules for the Direction of the Mind,” Descartes mengusulkan empat langkah penting: pertama, jangan menerima sesuatu sebagai kebenaran sebelum kita benar-benar memahaminya. Kedua, pecah permasalahan menjadi bagian-bagian kecil agar lebih mudah dipecahkan. Ketiga, selesaikan permasalahan yang lebih mudah terlebih dahulu sebelum beralih ke yang lebih sulit. Keempat, lakukan pencacahan dan pengecekan ulang untuk memastikan tidak ada permasalahan yang terabaikan.

Dari empat langkah ini, Descartes mengembangkan dua metode utama dalam pencarian kebenaran: metode intuisi dan metode deduksi. Metode intuisi mengacu pada pemahaman langsung yang tidak diragukan lagi tentang kebenaran. Sementara metode deduksi melibatkan penarikan kesimpulan logis dari premis yang lebih umum menuju yang lebih khusus.

Untuk menerapkan metode Descartes, kita perlu bersedia untuk menghilangkan asumsi, pendapat, nilai-nilai, dan pengetahuan yang belum terbukti kebenarannya. Kita juga harus mengakui bahwa pemahaman kita tentang dunia dan keyakinan kita dapat berubah seiring dengan perkembangan pengetahuan kita.

Dalam upaya mencari kebenaran mutlak, Descartes menguji eksistensi Tuhan. Ia mencoba memahami apakah Tuhan dapat dianggap sebagai substansi yang memenuhi syarat sebagai entitas yang jelas dan berbeda. Descartes mengemukakan bahwa Tuhan, seperti yang dipahami oleh kebanyakan orang, tidak memenuhi syarat ini, karena Tuhan tidak jelas dan tidak berbeda dengan pemikiran manusia.

Setelah menguji Tuhan, Descartes juga menguji konsep materi sebagai substansi. Namun, ia menemukan bahwa materi juga tidak memenuhi syarat sebagai substansi karena materi tidak dapat dibedakan dengan mimpi. Descartes menghadapi keraguan radikal, termasuk meragukan eksistensi dirinya sendiri.

Namun, dari keraguan ini, Descartes justru menemukan substansi paling mendasar, yaitu kesadaran atau pikirannya sendiri. Bagi Descartes, ketika kita meragukan diri sendiri, inilah saat kita berpikir, dan saat kita berpikir, kita ada. Dengan demikian, ia menemukan dasar eksistensial dalam pemikiran itu sendiri.

Dengan menggunakan metode Descartes dan memahami dasar dari “Cogito,” kita dapat mencari kebenaran mutlak dan menghindari keraguan yang tidak perlu dalam proses pencarian kita. Konsep-konsep filsafat Descartes dapat menjadi alternatif yang berguna bagi seorang Muslim dalam mengejar pemahaman yang lebih dalam tentang agama dan keyakinannya. Pemahaman yang lebih luas dapat membantu memperkuat nilai-nilai toleransi dan kemanusiaan dalam pandangan mereka, sejalan dengan cita-cita Islam sebagai agama rahmatan lil alamin.

About Author

alan habibur rohman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *