Opini

Sebuah Tinjauan Hadis Nabi, Benarkah Penyakit Ain itu Ada?

  • September 14, 2023
  • 4 min read
  • 64 Views
Sebuah Tinjauan Hadis Nabi, Benarkah Penyakit Ain itu Ada?

Setelah saya menulis tentang penyakit ain dari segi Alquran, saya akan membahasnya dari segi hadis Nabi. Sekedar mereview kembali, tidak ada satupun kata ‘ayn dalam Alquran yang mempunyai makna penyakit. Makna ‘ayn berupa penyakit hanya didapatkan dari hadis Nabi Muhammad Saw.

“Penyakit ain adalah nyata adanya,” (al-’ayn haqq) merupakan kata kunci yang dapat digunakan untuk mencari hadis-hadis yang membahas tentang ain. Rupanya, banyak yang meriwayatkan hadis tentang ain ini. Di antaranya para perawi yang meriwayatkannya adalah al-Bukhari (870 M), Muslim (875 M), al-Tirmidzi (892 M), Abu Dawud (889 M), Ibn Majah (887 M), Ahmad b. Hanbal (855 M), dan Malik (800 M).

Para sahabat Nabi yang meriwayatkan hadis ini pun cukup banyak, di antara mereka ialah Abu Hurairah (679 M), Abdullah b. Abbas (678 M), Abu Hayyah (670 M), ‘Amir b. Rabi’ah (672 M), A’ishah (678 M), ‘Amru b. As (664 M). Berikut saya kutip hadis yang diriwayatkan oleh Muslim hadis nomor 4058 dalam Bab Penyembuhan (tibb), Penyakit, dan Ruqyah.

Dari Ibnu ‘Abbas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penyakit yang timbul dari pengaruh jahat pandangan mata memang ada (al-’ayn haqq). Seandainya ada yang dapat mendahului qadar, tentulah itu pengaruh pandangan mata. Karena itu apabila kamu disuruh mandi, maka mandilah!”

Terdapat riwayat lain yang lebih panjang yang diriwayatkan oleh Imam Malik dalam Kitabnya Al-Muawatta’ dalam Bab Wudhu dikarenakan Ain nomor indeks 1471:

Muhammad bin Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif ia mendengar Bapaknya berkata: “Abu Sahl bin Hunaif mandi di sungai, lalu ia melepaskan jubah yang dikenakannya, sementar ‘Amir bin Rabi’ah melihatnya.” As’ad bin Sahl berkata: “Sahl adalah seorang pemuda yang putih dan bagus kulitnya. Amir bin Rabi’ah berkata kepadanya: “Aku tidak pernah melihat kulit yang sebagus ini, bahkan kulit seorang gadis sekalipun.” Kemudian Sahl terserang demam, dan penyakit tersebut bertambah parah. Rasulullah Saw. kemudian didatangi dan dikabarkan kepada beliau ‘Sesungguhnya Sahl sakit, ia tidak bisa datang bersama anda, Wahai Rasulullah! ‘Rasulullah Saw. lalu menemuinya, kemudian Sahl mengabarkan tentang apa yang telah dilakukan Amir terhadapnya. Rasulullah Saw. bertanya: ‘Kenapa salah seorang dari kalian hendak membunuh saudaranya? Tidaklah (sebaiknya) engkau mendoakan agar diberkati. Sesungguhnya penyakit ‘ain itu benar adanya. Berwudhulah kamu untuknya!’ Amir lantas berwudhu untuk Sahl. Setelah itu Sahl dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berangkat dengan keadaan sehat.”

Sampai di sini, pertanyaan yang menjadi judul di atas dapat dijawab, bahwa jawabannya adalah ada, sesuai dengan hadis yang saya tampilkan di atas. Lalu bagaimana dengan pendapat para ulama para pensyarah hadis?

Badr al-Din al-Hanafi dalam ‘Umdah al-Qari mengatakan bahwa penyakit ain ada, dan mempunyai pengaruh dalam jiwa, yang mengingkari keberadaan penyakit ini adalah sejumlah orang realis yang hanya percaya kepada panca indra. Pendapat ini ditolak oleh hadis ini.

Ibn Hajar al-’Asqalani (1449 M) memberikan penjelasan tentang hubungan antara ain dengan takdir dengan menjelaskan bahwa penyakit ain hanya datang dengan izin Allah Swt. Lalu, bagaimana ain bisa mendahului qadar Allah Swt.? Ibnu Hajar melanjutkan dengan mengutip pendapat al-Nawawi bahwa penetapan qadar kemudian dihubungkan dengan penyakit ain yang nyata adalah wujud dari penyakit ain yang sungguh berbahaya (qawiyah darar) dan dapat mempengaruhi kesehatan seseorang. Tidak heran Nabi Muhammad langsung menyuruh Amir untuk berwudhu oleh sebab pandangan matanya yang menyebabkan ain atas Sahl.

Petunjuk Nabi Muhammad atas Amir untuk melaksanakan wudhu adalah petunjuk bahwa permasalahan utama adalah di mata membawa iri dan dengki bukan kepada korban penyakit ain itu sendiri. Penyakit ain adalah wujud dari betapa berbahayanya rasa iri dan dengki yang ada dalam diri seseorang.

Meskipun apabila seseorang kesulitan mencari orang yang memandang dengan rasa iri, Nabi Muhammad memberikan solusi dengan membacakan doa ruqyah untuknya. Seperti halnya Aisyah r.a. yang mendapat perintah untuk membacakan ruqyah untuk penyakit yang disebabkan oleh ain. (Bukhari: 5297) Untuk itu masihkan kita membebankan kepada korban penyakit ain dengan dosa pamer yang mereka tidak sadari?

About Author

Ahmad Natsir

Penulis berbagai karya di https://linktr.ee/ennatsir

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *