Opini

Merawat dan Meruwat Islam Indonesia

  • September 11, 2023
  • 4 min read
  • 63 Views
Merawat dan Meruwat Islam Indonesia

Keberadaan Islam di Indonesia menyimpan akar sejarah yang panjang. Islam Indonesia bukan hadir secara instan (taken for granted), tapi melalui proses dialektika dan dinamika yang panjang. Oleh karena melalui proses yang panjang itulah, Islam Indonesia pada akhirnya menemukan bentuk khas (geniune) dan barangkali tak ditemukan di belahan dunia lainnya.

Kalau Anda lihat dengan saksama, sesungguhnya Islam Indonesia menjadi entitas yang unik; ia bukan Islam Arab, juga bukan Islam Timur-Tengah lainnya. Ia lahir dari proses dialektika antara tradisi dan budaya Nusantara.

Apakah Islam Indonesia itu hasil dari sinkretisme? Tentu saja tidak! Makna sinkretisme itu adalah perpaduan unsur-unsul fundamental dari agama. Artinya ia mencangkup akidah, teologi atau aspek esensial dari agama. Sedangkan Islam Indonesia tidak mencampuradukkan aspek teologis atau akidahnya dengan agama lain misal Hindu, Budha atau agama lokal (indigenous religion). Islam Indonesia hanya terbentuk salah satunya dari proses akulturasi dan asimilasi.

Sehingga aspek akidah atau ibadah mahdah-nya tetap murni sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah. Kecuali Anda tetap meyakini tesis yang digelontorkan oleh orientalis-misionaris seperti Snouck Hurgronje tentang hubungan antara Sufisme dan sinkretisme India yang tidak pernah ditemukan dalam teks-teks yang dibawa pulangnya dari Leiden (Michael Laffan, 2015).

Namun akibat pemahaman yang tumpang tindih pada akhirnya masih ada yang meyakini bahwa Islam Indonesia atau lebih spesifik Islam tradisional di Indonesia identik dengan sinkretisme. Salah satu penyebabnya adalah revolusi digital. Perkembangan teknologi-informasi yang luar biasa cepat telah mengakibatkan melubernya arus informasi di dunia digital. Akibatnya, semua orang bebas bersuara (speak up) dan mengekspresikan pemahaman keagamaannya melalui kanal-kanal media sosial miliknya.

Celakanya, mereka yang bersuara tentang praktik keagamaan itu tak selalu memiliki otoritas keagamaan yang mumpuni. Ia bisa saja mengenyam informasi keagamaan dari sumber internet tanpa tahu apakah itu benar atau tidak. Dengan bahasa yang lebih jelas, kapasitas keagamaan seseorang saat ini tak jarang ditentukan dari seberapa banyak jumlah followers Instagram atau media sosialnya. Sebab mereka adalah “homo digitalis” alias “manusia jari” yang terjebak di antara dimensi artifisial dan kenyataan (Budi Hardiman, 2021).

Islam Kita Nggak Kemana-mana kok Disuruh Kembali?

Hal utama yang harus dipahami dan disepakati adalah bahwa Tuhan menghendaki umat manusia beragam (heterogen). Seandainya Ia mau sudah sejak dulu umat manusia dijadikannya seragam (homogen). Jargon “ar-ruju’ ila al-Qur’an wa as-sunnah” adalah ungkapan yang kerapkali kita dengar dari ceramah dan tulisan-tulisan di media sosial. Jargon tersebut secara eksplisit menyipratkan pesan bahwa ada orang di luar kelompoknya yang harus kembali ke ajaran Islam: al-Qur’an dan sunnah. 

Pertanyaannya, kelompok siapa yang dimaksud harus kembali? Dan kitab apa yang mereka anut sehingga harus kembali ke dua sumber pokok ajaran Islam itu? Bagaimana mereka tahu kalau kelompok di luar mereka itu keluar dari dua ajaran pokok Islam itu?

Mereka yang sering menyeru hal demikian sesungguhnya mengidap egosentrisme: menganggap dirinya paling benar. Cara padang oposisi-biner inilah yang justru menjadi biang kerok silang sengkarut di Indonesia. Jika dibiarkan, cara pandang ini akan terus beranak-pinak dan mendekam dalam alam bawah sadar generasi muda Indonesia.

Seperti bom waktu, perspektif hitam-putih itu sewaktu-waktu akan meledak jika ada yang memantiknya. Dan biasanya, momen atau tahun-tahun politik seperti sekarang inilah waktu yang tepat untuk “menunggangi” agama sebagai isu seksinya.

Namun bukan berarti, mereka yang sering menyeru slogan “NKRI Harga Mati” tak ikut andil dalam memperkeruh situasi. Slogan “NKRI Harga Mati” menjadi sama rancunya ketika di balik itu ada oligarki yang menunggangi.

Islam Indonesia harus terus dirawat dan diruwat. Adapun yang dirawat adalah keanekaragaman ekspresi praktik keagamaan. Dengan merawat hal itu maka kita sesungguhnya sedang meruwat; mengembalikan Islam (Indonesia) pada hakikatnya: rahmatan lil alamin.

Jadi kalaupun disuruh kembali saya sepakat asalkan kembali kepada identitas kita: Islam Indonesia. Bukan identitas komunal, primordial apalagi transnasional. Bukan “kamu,” “saya,” “antum” atau “ana,” melainkan kita.

Sedangkan cara untuk merawat dan meruwat Islam Indonesia adalah dengan terus menyeru keramahan bukan kemarahan. Islam Indonesia harus mendepankan merangkul bukan memukul. Dengan begitu Islam Indonesia akan tetap menjadi agama yang teduh bukan yang gaduh. []

About Author

Saiful Mustofa

Direktur Diskursus Institute dan Dosen di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *