Opini

Jalan Tengah Moderasi

  • May 11, 2023
  • 4 min read
  • 40 Views
Jalan Tengah Moderasi

Saya terkadang bertanya-tanya, kenapa masih ada saja orang yang alergi dengan istilah moderasi beragama. Bahkan, sampai ada yang menuduh kalau istilah Islam moderat adalah istilah yang dibuat oleh Barat untuk menyelewengkan pemahaman umat.

Saya pernah melihat sebuah video di youtub yang judulnya “bahaya besar Islam moderat (wasathiyah) bagi umat Islam”. Di kolom komentar, banyak yang mendukung video tersebut. Beberapa di antaranya menuliskan komentar bahwa berislam itu harus totalitas. yang lain menimpali, berislam jangan setengah-setengah, apalagi hanya memposisikan diri di tengah-tengah. Tentu masih banyak video lain yang serupa, dan dengan jelas munuduh Islam moderat adalah pemahaman sesat yang disponsori oleh Barat.

Terdapat juga sebuh artikel yang diberi judul ‘bahaya moderasi bagi generasi”. Artikel tersebut menuliskan kalau program moderasi adalah cerminan sekularisme agar Islam dijalankan oleh kaum Muslim secara parsial, tidak mengakar atau tidak secara total. Dituliskan juga, bahwa mereka yang menyebarkan Islam moderat mudah sekali memberikan “cap” radikal kepada orang yang berusaha menjalankan syariat Islam.

Benarkah tuduhan-tuduhan tersebut? Mengapa mereka menganggap bahwa Islam moderat adalah agenda untuk mendangkalkan aqidah umat? Mungkin mereka belum sepenuhnya paham apa sesungguhnya arti dari moderat yang dimaksud dalam konteks Islam moderat.

Pertama, moderat memang sering diartikan dengan wasathiyah, yang berarti “di tengah” atau “pertengahan”. Dengan kata lain, berada pada posisi tengah di antara dua sisi. Sebenarnya masih ada istilah lain, tapi wasathiyah menjadi istilah yang paling sering digunakan. Yang perlu dipahami adalah, berada pada posisi tengah bukan berarti tidak memiliki pendirian sebagaimana yang dituduhkan. Kalau dalam konteks beragama, bukan berarti yang moderat itu lemah aqidahnya karena tidak totalitas dalam beragama. Maka kita harus pahami dulu konteksnya.

Jadi, moderat itu bukan memposisikan diri di tengah-tengah antara yang haq dan yang batil. Karena kalau pilihannya antara haq dan batil, maka kita wajib berada pada sisi yang haq dan melawan yang bathil. Moderat juga bukan mengambil posisi tengah antara yang benar dan yang salah. Karena kalau ada yang benar, maka kita harus membela yang benar, bukan membela yang salah. Bukan juga menengahi antara yang baik dan yang buruk, karena yang buruk jelas harus kita tinggalkan dan memilih kebaikan.

Jadi yang dimaksud mengambil posisi tengah dalam konteks moderasi beragama adalah berada di tengah antara dua kutub ekstrem, yaitu antara sikap al-ghuluw (berlebihan) dan sikap at-tafrit (berkurangan) dalam beragama. Artinya, orang yang moderat itu selalu menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, menjaga keseimbangan antara ketaatan ibadah ritual dan ibadah sosial serta menjaga kesimbangan antara doktrin-doktrin pengetahuan.

Nabi pernah memperingatkan tiga orang pemuda yang datang kepada beliau. Ketiga pemuda itu berusaha untuk mengikuti ibadah yang dilakukan Nabi. Pemuda pertama berniat melakukan puasa terus menerus. Pemuda kedua ingin shalat tanpa henti. Sementara yang ketiga mengatakan tidak akan menikah seumur hidupnya. Semua mereka lakukan demi ketaatan dan mengejar keutamaan ibadah seperti Nabi.

Tapi apa yang terjadi? Nabi justru melarang ketiga pemuda tersebut untuk melaksanakan niatnya. Nabi mengatakan bahwa beliau memang puasa, tapi beliau juga berbuka (tidak puasa). Beliau shalat malam, tapi beliau juga tidur (istirahat), dan tentu saja beliau menikahi wanita.

Nabi telah mengajarkan keseimbangan dalam beribadah. Artinya, Nabi sendiri tidak tidak bersikap berlebih-lebihan (al-ghuluw) dan tidak juga berkurangan (at-tafrit). Itulah yang dimaksud dengan sikap moderat atau di tengah itu tadi.

Kedua, apakah benar ‘agen’ Islam moderat suka memberi cap radikal pada orang yang berusaha menerapkan syariat Islam? Saya rasa, ini juga tidak benar. Dalam beragama, kita memang harus fanatik, radikal dan fundamental. Ini juga disampaikan oleh Lukman Hakim Syaifudin dalam suatu kesempatan mengikuti pelatihan moderasi beragama.

Sebagai salah satu pencetus moderasi beragama, beliau dengan tegas mengatakan, beragama itu sudah seharusnya fanatik, harus radikal dan fundamental. Karena kalau beragama tidak dengan radikal, agama tidak akan mengakar, sehingga agama akan tercerabut dari akarnya. Beragama juga harus punya dasar fundamental yang kokoh, karena kalau fundamen nya rapuh, maka agama akan mudah roboh. Tapi beliau menegaskan, yang harus dihindari dalam konteks moderasi beragama adalah ekses negatif dari sikap fanatisme, radikalisme dan konservatisme agama.

Artinya, kalau kita Islam, kita harus yakin Islam agama yang benar dan satu-satunya jalan kebenaran. Tanamkan keyakinan tersebut dalam hati dengan sekuat-kuatnya. Tapi, jangan kemudian dengan keyakinan tersebut kita boleh mengolok-olok keyakinan dan sesembahan agama lain. Karena sikap itu akan menimbulkan dampak buruk dalam hubungan umat beragama. Dan jelas alquran dengan tegas melarang kita melakukan tindakan tersebut.

Kita yakini sepenuhnya hanya Islam agama yang diridhai Allah. Tapi jangan lantas kita memaksakan agama kita pada penganut agama lain. Dan, ketika mereka tidak mau menerima Islam, jangan lantas kita memushi mereka, mengintimidasi mereka, dan menganggu kegiatan ibadah mereka apalagi sampai melakukan tindak kekerasan. Ingat, La ikraha fiddinLakum dinukum waliyadin.

Jadi jelas, bahwa gerakan Islam moderat tidak sedikitpun berupaya untuk mendangkalkan aqidah umat. Bukan juga proyek titipan Barat. Moderasi adalah ajaran Islam itu sendiri. Wallahu a’lam.

About Author

Didin Wahyudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *