Tulungagung — Di banyak tempat, drainase hanya dipahami sebagai elemen teknis tersembunyi: berfungsi namun jarang dipikirkan maknanya. Namun di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Bioswale justru dihadirkan sebagai satu kesiapan. Melalui pembangunan bioswale, kampus menggeser cara pandang terhadap infrastruktur dari kebutuhan fisik menjadi etika ekologis yang sarat nilai keislaman.
Alih-alih membangun sistem yang mengusir air secepat mungkin, bioswale dirancang untuk menahan, memperlambat, dan meresapkan air hujan kembali ke tanah. Vegetasi hidup menyaring polutan, mengurangi genangan, dan memperbaiki kualitas lingkungan kampus. Di titik ini alam dianggap mitra kerja sama.
Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma pembangunan kampus. Infrastruktur tidak lagi berdiri netral, melainkan membawa pesan moral. Setiap tetes air hujan serapan tanah menjadi pengingat bahwa keberlanjutan lahir dari kesadaran memberi ruang bagi alam menjalankan fungsinya.
Lebih jauh, bioswale di UIN SATU tidak berhenti sebagai solusi teknis pengelolaan air. Ia bertransformasi menjadi ruang edukasi ekologis yang hidup. Civitas Akademik menyaksikan secara langsung konsep keberlanjutan diwujudkan dalam kebijakan kampus. Nilai ekologi tidak hanya diajarkan dalam ruang kelas, tetapi hadir dalam lanskap sehari-hari yang mereka lalui.
Dalam konteks keagamaan, langkah ini sejalan dengan gagasan ekoteologi Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Nasaruddin Umar. Dengan demikian, bioswale bukan sekadar pilihan konstruksi, melainkan bagian dari kesalehan.
Rektor UIN SATU Tulungagung, Prof. Abd. Aziz, menegaskan bahwa bioswale merupakan bagian visi besar kampus dalam mengintegrasikan keilmuan, spiritualitas, dan kepedulian lingkungan. Menurutnya, perguruan tinggi keagamaan Islam memiliki tanggung jawab moral mempraktikkan secara keberlanjutan.
“Bioswale ini bukan sekadar fasilitas drainase. Ia simbol kesadaran ekologis kita bersama. Kampus menjadi ruang pembelajaran, sekaligus contoh ilmu dan agenda spiritual bekerja bersama menjaga alam,” tegas Prof. Abd. Aziz.
Komitmen tersebut diperkuat melalui program ReliGreen, agenda transformasi UIN SATU menuju kampus hijau religius, inklusif, dan berkelanjutan. Melalui penguatan infrastruktur ramah lingkungan, kampus berupaya menempatkan PTKIN sebagai aktor yang berkontribusi nyata dalam agenda lingkungan global.
Pada akhirnya, bioswale UIN SATU Tulungagung menyampaikan pesan lebih luas bahwa dakwah dan peradaban Islam kontemporer tidak cukup berhenti pada teks dan mimbar. Cara kampus merawat tanah, air, dan kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari narasi keislaman itu sendiri. Dari saluran air yang hijau dan tenang, mengalir sebuah pesan besar bahwa masa depan pendidikan Islam turut ditentukan oleh keberpihakannya pada kelestarian bumi.





